Pemkot Manado Seriusi Persoalan Stunting

"Plh Kadis Kesehatan Manado, Bobby Kereh sampaikan, Mengenai perbedaan mencolok antara data real ePPBGM dan hasil SKI 2023. Tentunya Pemkot Manado akan berkoordinasi untuk secepatnya mengidentifikasi 21,8% kasus stunting yang dilaporkan oleh SKI ini".

upaya pencegahan stunting oleh pemkot manado, (foto istimewa)

IDNEWS.CO, MANADO,- Dari hasil Rilis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengenai kasus Stunting, ternyata Sulawesi Utara menuunjukkan pengingkatan angka sangat signifikan.


Dari 15 Kabupaten Kota, 8 termasuk daerah mengalami permasalah Stunting ditahun 2023.


Salah satunya Kota Manado sendiri sementara Dinas Kesehatan akui bahwa masih kerja keras menyelesaikan masalah gizi.


Pelaksana Harian (plh) Kepala Dinas, Bobby Kereh menjelaskan dari Survey Kesehatan Indonesia (SKl) tahun 2023, adanya kenaikan sebesar 18,4 persen menlonjak ke angka 21,8 persen.


" Datanya seperti itu sehingga butuh ekstra kerja menyelesaikan masalah kurangnya gizi bagi masyarakat," kata Bobby saat wartawan mewancarainya, Kamis (30/5/2024).


Akan tetapi kata Bobby menjelaskan ternyata Dinkes Manado punya data perbandingan dengan hasil survey SKl.


" Data Kami di Dinas Kesehatan menunjukkan adanya 74 Balita Stunting secara terukur Bulan Februari 2024, artinya dari 17.472 Balita kasusnya hanya 0,42 persen. Sangat jauh perbandingannya sebab tolak ukur by name by address jadi SKl tahun 2023 survey 21,8 persen dapat dari mana?," tanya Kereh.


Sementara lebih jauh lagi Kereh menerangkan alat pengkur yang terpakai memang sesuai standar dan tersertifikasi dari Kemenkes Rl.


“Kami memakai alat ukur bagi balita yakni Antropometri yang tersertifikasi dan yang dibagikan oleh Kemenkes RI. Dan juga kami terus giatkan posyandu, untuk mencegah peningkatan angka kematian ibu dan bayi saat kehamilan, persalinan, atau setelahnya melalui pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya


Lanjutnya, setelah di balita diukur hasilnya kemudian diinput ke aplikasi yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan RI. 


“Hasil Pengukurannya di input ke Aplikasi berbasis Website yang dikembangkan oleh Kemenkes RI, yakni elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPBGM). Aplikasi inilah yg kemudian menghitung berdasarkan algoritmanya dan menentukan Stunting atau tidaknya si balita. Hal ini tentunya untuk menghindari bias dari petugas pengukur,” tandas Kereh. 


Namun, setelah hasilnya keluar, terdapat perbedaan yang signifikan antara data real ePPBGM dan hasil SKI 2023.


“Mengenai perbedaan mencolok antara data real ePPBGM dan hasil SKI 2023. Tentunya Pemkot Manado akan berkoordinasi untuk secepatnya mengidentifikasi 21,8% kasus stunting yang dilaporkan oleh SKI ini. Supaya, anak-anak ini bisa diintervensi asupan gizinya dan diperbaiki kondisi stuntingnya,” jelasnya. 


 Dinas Kesehatan Kota Manado Kota Manado Manado dan stakeholder terkait akan berupaya melakukan koordinasi untuk memperbaiki status gizi masyarakat. 


“Ke depan juga akan diupayakan peningkatan koordinasi antar instansi untuk memperbaiki status gizi di masyarakat, ” tutupnya.


(Yudi barik)

Lebih baru Lebih lama